Jomblo, Bukanlah Kategori Status Hubungan

Jomblo, kata ini begitu populer satu dekade terakhir. Sebagai sebuah kata yang makna sebenarnya adalah kesendirian ini. Yang akhirnya dipadankan dengan makna orang yang belum menikah atau belum memiliki hubungan dengan lawan jenis dan ditasbihkan sebagai bentuk dari status hubungan. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa jomblo ini akhirnya tidak diletakkan pada duduk permasalahan yang seharusnya.

Persoalan mendasar dari pembahasan jomblo, bukanlah tentang kapan harus mengakhiri masa jomblo. Karena percayalah persoalan kapan berakhirnya, adalah pertanyaan dari seseorang yang tidak mampu merdeka dari konstruksi sosial soal pasangan dan status hubungan. Persoalan jomblo ini harus diletakkan pada sebuah konstruksi dimana maknanya tidak diartikan secara sempit yaitu tidak memiliki pasangan.

Meletakkan ulang tentang duduk masalah dari makna kata jomblo adalah sebuah cara untuk merekonstruksi cara pandang masyarakat seluruhnya. Bagaimana tidak, silang sengkarut tentang jomblo ini dimaknai secara hitam dan putih yang salah. Pemikiran tentang jomblo yang harusnya dipahami secara radikal (mendasar) akhirnya berujung pada muara pemahaman dangkal yang tidak lebih dari status hubungan. Hal itu serta merta menggambarkan kondisi cara berpikir seseorang dalam melihat seseorang dari status hubungan.

Pada kehidupan nyata jomblo selalu dikaitkan dengan tidak memiliki pasangan. Benar, tapi kurang tepat. Pernah dengar ungkapan “di rumah pria beristri dan bapak bagi anak-anak, di luar rumah adalah bujangan (lajang)” atau anekdot yang seperti ini “LDR itu Lo Doank Relationship”.

Kata-kata itu sebenarnya sudah menegaskan makna kata jomblo melalui plesetan dan ungkapan-ungkapan lama yang sering kita dengar dalam keseharian. Bahwa jomblo itu adalah situasi dan kondisi dimana seseorang mengalami kesendirian, dan tidak berarti langsung dipahami sebagai sebuah status hubungan.

Seseorang yang sendiri bukan berarti tidak memiliki pasangan, karena toh, akhirnya status hubungan itu diikat dengan kesadaran diri dan komitmen dari para pelakunya.

Awalnya memang dimafhumkan saat seseorang melabeli jomblo sebagi kategori status hubungan. Tapi toh akhirnya itu harus dibantah dan tidak bisa terus dibiarkan. Bagaimana mungkin kesendirian dijadikan sebuah status hubungan. Logikanya seperti ini “ciri dari hubungan adalah terbentuk dari dua arah”, lalu bagaimana mungkin jomblo yang notabene kondisinya sendirian dijadikan status hubungan?

Maka kesalahan cara berpikir ataupun kesalahan penyebutan yang menyamakan jomblo, single dan lajang ini sebagai sebuah status hubungan adalah kesalahan besar. Karena belum menikah belum tentu sendirian. Maka dengan sendirinya menyatakan bahwa lajang, single dan jomblo bukanlah status hubungan, melainkan sebuah bentuk keadaan saja.

Iklan

Bahaya Laten Romantisme, Bagi Kaum Muda dan Jomblo!

“Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, cuma kamu satu-satunya wanita yang bisa buat aku menjadi bermakna, kamu wanita tercantik yang pernah aku temui atau aku tak pernah sebodoh ini mencintai seseorang kecuali kamu” setidaknya rayuan-rayuan ini membuat seseorang merasa nenjadi lebih istimewa. Padahal hal seperti ini sebenarnya justru adalah racun bagi seseorang. Kata-kata manisnya justru seperti jebakan yang akan membuat seseorang terjerembab jatuh ke dalam pusara romantisme tiada ujung.

Rayuan, gombalan atau yang saat ini disebut modus (modal dusta) adalah jurus-jurus jitu memang yang sering sekali dikeluarkan oleh para jomblowan. Sedangkan bagi jomblowati, siapa sih orang yang tidak senang jika dikirimi kata-kata indah dengan berbagai kiasan-kiasan yang maknanya sangat dalam dan membuat seseorang wanita melayang tinggi. Semua orang memang rasa-rasanya selalu terjebak dalam sebuah keadaan yang sering disebut dengan Romantisme.

Sebenarnya apa sih romantisme itu dan kenapa para jomblo harus menghindari yang namanya romantisme itu?

Untuk berbicara romantisme memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan falsafahnya. Namun untuk saat ini, saya sedang tidak memberikan kultum untuk dan kepada para jomblo, tentang pengantar politik Prancis. Oleh karenanya, mari kita pahami romantisme secara lebih mudah dan sederhana. Romantisme, secara sederhana dapat dikatakan bentuk dari ekspresi seseorang terhadap kekaguman, kesedihan, kesukaan dan pengejewantahan rasa. Lalu apa yang salah dengan romantisme dan menjadi romantis

Menjadi romantis tentu tidak ada salahnya dan merupakan sebuah pilihan yang dipilih seseorang. Biasanya cara ini memang digunakan siapapun yang sedang berusaha memenangkan hati pasangannya. Mulai dari intens berhubungan dan bertemu, perhatian-perhatian melalui media sosial, rayuan atau gombalan yang suatu saat nanti di masa depan kamu akan bilang “alay banget sih”, ataupun memberikan kejutan-kejutan kecil seperti kado atau candle light dinner.

Tapi, sebelum terlalu jauh kita membahas mengapa romantisme itu harus dihindari oleh jomblowan dan jomblowati. Maka harus dimengerti terlebih dahulu bahwasanya romantisme tidak hadir karena asmara saja tetapi romantisme atau romantisisme berbicara tentang banyak hal yang menekankan pada perasaan si objek atau pencipta karya yang bergolongan romantisme. Pada novel misalnya, karya sastra itu memang menjadi satu alat yang berisikan romantisme. Namun isi konten pada novel juga menentukan apakah itu menjadi sesuatu yang berguna atau hanya menjebak dalam sebuah perasaan saja.

Keterjebakan dalam sebuah perasaan memang menjadi musuh besar setiap jomblo. Ditambah dengan kesalahan memahami romantisme oleh jomblowan dan jomblowati yang pada akhirnya menyalahartikan tentang romantisme. Fatalnya, kesalahan ini membawa jomblowan atau jomblowati pada satu muara yaitu kekecewaan mendalam terhadap pasangannya kelak. Harapan-harapan dan ekspektasi ini muncul seiring dengan romantisme ala bandot tua.

Jomblowan menganggap bahwa perasaan setiap wanita akan takluk terhadap rayuan-rayuan gombal ala kakek moyangnya. Itu memang bukanlah hal salah sepenuhnya, tapi juga bukanlah sesuatu yang harus dibenarkan. Tipe jomblowan seperti itu menyamakan semua wanita, padahal saat dia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki prinsip maka bisa ditebak rayuan-rayuan gombal yang gembel atau modus manusia kardus seperti itu, hanya akan dimuntahkan kembali dan si jomblowan hanya akan dianggap sampah.

Pada sebagian besar jomblowati rayuan-rayuan ini dimakan mentah-mentah layaknya sebuah lalapan yang dimakan dengan sambal. Nikmat, sedap dan lezat.

Namun keterjebakan pada gombalan atau modus ala cassanova ini akhirnya membutakan jomblowati dan tidak bisa membedakan kagum yang berlebih dengan cinta. Jomblowati yang seperti ini akhirnya larut dalam keromantisan cinta dari lelaki gembel penebar gombalan. Mereka akan membela mati-matian meskipun si lelaki yang dicintainya salah.

Pada akhirnya kisah cintanya mrmang bisa saja berlanjut tapi dalam prosesnya si jomblowati mengalami pesakitan yang justru bersumber dari kekaguman butanya.

Menghindari romantisme dalam cinta bukan berarti seseorang tidak bisa romantis. Seseorang bisa romantis meski dengan hal sederhana dan cinta itu menyederhanakan kesulitan menjadi kemudahan dan menjadikan kemudahan sebagai kebahagiaan. Romantis dalam cinta yang sebenarnya adalah menghargai pasangannya. Serta kejujuran menjadi sebuah bentuk romantis dalam cinta yang tak pernah bisa dinafikan oleh siapapun.

Untuk itu sebenarnya seorang jomblo haruslah bisa melepaskan diri dari kekeliruan romantisme yang dimaknai terlalu dini. Maka dalam hal ini cara paling cepat untuk melepaskan diri dari romantisme adalah keraguan. Keraguan terhadap cinta seseorang tidak pernah salah, karena dengan begitu kamu akan mendapatkan jawaban sejauh mana perasaannya terhadap kamu. Justru dengan menjatuhkan diri dalam romantisme, kamu seperti menjadi pengemis sekaligus budak cinta.

Menjadi Jomblo Merdeka

Agustus memang menjadi bulan istimewa bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya rakyat Indonesia, karena di bulan Agustus Indonesia mengalami momen dimana mereka menyatakan diri merdeka dan menjadi negaraa yang berdaulat. Berdiri sepenuhnya di atas kedua kakinya dan tidak tergantung ataupun terjajah oleh siapapun. Merdeka, barangkali itu istilah yang sejak jaman perjuangan hingga kini tetap melekat namanya.

Sayangnya, kata-kata merdeka ini tidak serta merta ikut dirasakan semua orang pada jaman kini dan seorang jomblo adalah salah satunya. Bagi seorang jomblo di bulan Agustus ia hanya menerima sebuah euforia dari indahnya pernak pernik apa yang disebut kemerdekaan. Sedangkan, jomblo tetap saja masih terjajah, tentu saja bukan dalam artian fisik. Baca lebih lanjut

Penindasan dan Kerja Pembebasan Kaum Jomblo

Persoalan penindasan ini memang dimana-mana tetaplah sesuatu yang tidak dibenarkan, bahkan dimana pun dan oleh siapa pun, kecuali bagi mereka orang-orang sakit jiwa yang tak punya perikemanusiaan. Tapi, bagaimana jika penindasan ternyata terjadi pada seorang jomblo yang justru ditindas oleh jomblo lainnya?

Baca lebih lanjut

Kenapa Jomblo Harus Revolusioner

Cuma karena gak punya pasangan kamu akhirnya larut dalam kesedihan. Hari-hari dilewati dengan pandangan-pandangan iri terhadap banyak pasangan yang kerjanya gandengan tangan dengan obrolan yang tidak bermutu dan acapkali tertawa dengan bangga. Setiap saat kerjaan kamu aktif di grup-grup buat melakukan tebar pesona, melancarkan modus-modus yang akhirnya berakhir tanpa hasil.

Menyulitkan memang saat kamu jomblo, dan kamu tidak memiliki apapun untuk ditonjolkan. Wajah ganteng saja tidak cukup untuk menjadi sebuah pasangan yang memiliki visi dan misi ke depan. Dompet tebal hanya membuat kamu disukai secara sesaat. Dalam hal seperti ini, kamu adalah ciri seorang jomblo dalam kategori borjuis yang ngenes. Baca lebih lanjut