Jomblo : Menentang Stigma Perawan Tua dan Bujang Lapuk Dalam Konteks Pernikahan

Pernikahan merupakan sebuah prosesi sakral bagi banyak orang yang sering sekali diagung-agungkan sebagai sebuah upacara yang hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Menurut definisi beberapa literatur, pernikahan sebenarnya adalah sebuah prosesi tentang kesepakatan antar dua orang yang memiliki hubungan untuk melanutkan ke jenjang hubungan yang lebih intens dalam hal kehidupan. Secara sarkas, pernikahan dikatakan sebagai bentuk pelegalan yang dicatat oleh institusi lembaga negara atau penghalalan dalam agama untuk sebuah pertemuan dua kelamin sebagai pelampiasan cinta dan nafsu.

Lalu, apa hubungan pernikahan dengan jomblo dalam menentang stigma perawan tua dan bujang lapuk? Hubungan ini adalah hubungan tidak langsung, namun sering dirasakan oleh seorang jomblo. Misalnya untuk perempuan dan pria yang masih muda, menjadi jomblo bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan karena usia yang masih muda dan waktu yang cukup panjang untuk mencari pasangan. Hal ini tentu berbeda bagi perempuan dan pria yang sudah berumur tapi belum juga menikah, terlepas apakah dia memiliki pasangan atau tidak. Sehingganya gelar perawan tua dan bujang lapuk dilekatkan tanpa meminta persetujuam dari diri pribadi seseorang yang dimaksud tersebut.

Pada tingkatan yang mengkhawatirkan permasalahan seseorang masih jomblo dan pernikahan ini dialami oleh seorang wanita yang memiliki usia 25 tahun ke atas. Kenapa hanya wanita? Hal ini karena biasanya wanita akan merasa cemas akibat tuntutan keluarga atau ketakutan yang didapat dari banyak mitos. Dalam konstruksi sosial budaya di Indonesia, jika tidak ingin mendapatkan predikat perawan tua dan bujang lapuk sebelum berusia 30 tahun bagi wanita daan 40 tahun bagi seorang pria. Padahal gelar perawan tua dan bujang lapuk adalah contoh kesesatan berpikir seseorang dalam memaknai sebuah pernikahan. Karena dalam hal ini seseorang memaknai pernikahan adalah sesuatu yang harus dilaksanakan secepatnya.

Keributan yang terjadi karena masalah pernikahan ini, menambah daftar panjang faktor penyebab depresi seorang hanya untuk alasan belum ingin menikah dan memilih untuk sendiri. Padahal menjadi seorang jomblo dan belum menginginkan menikah bukanlah sesuatu yang salah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Gengsi sosial seringkali menjadi alasan dari keributan ini. Lucunya hal ini justru terjadi dikalangan keluarga dan bermuara pada sebuah prosesi perjodohan sebagai bentuk menghindarkan aib terhadap predikat perawan tua dan bujang lapuk yang dianggap mencemari nama baik keluarga. Hal seperti itu tidak bisa dibenarkan, bagaimana seseorang yang memilij untuk sendiri justru dianggap sebuah aib hanya karena pilihannya. Pun dibalik perjodohan yang terjadi adalah hilangnya hak seseorang untuk memilih. Hak kebebasan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan pun dikebiri hanya karena tuntutan menikah dari keluarga.

Dalam agama terutama bagi seseorang yang memeluk agama islam, pernikahan tidaklah melulu sesuatu yang diharuskan atau dikatakan fardhu (wajib), yang karena tidak melakukannya seseorang akan mendapatkan dosa. Dalam agama Islam sendiri, banyak Mazhab yang menjelaskan hukum menikah, seperti yang dikutip dari muslim.or.id Mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa hukum menikah adalah mubah. Sedangkan dalam Mazhab para jumhur ulama seperti Hanafi, Hambali dan Maliki, hukum menikah itu adalah sunnah. dan perlu diketahui bahwa perjodohan dalam Islam tidak bisa dilakukan jika yang dijodohkan menolak atau tidak ingin dijodohkan.

Pada lingkaran pertemanan, seseorang yang belum menikah kerap kali mendapatkan intimidasi verbal yang dilakukan hanya urnuk mengejek seseorang yang memiliki predikat jomblo. Intimidasi verbal seperti pertanyaan atau pernyataan “kapan nikah?”, “gue comblangi ya?” atau “makanya cari pasangan donk” merupakan intimidasi verbal yang sering sekali dianggap sebuah candaan. Padahal kata-kata ini secara tidak lanhsung menusuk hati seseorang  dan membuatnya tidak nyaman dengan lingkaran pertemanan yang berpengaruh pada tingkat tekanan psikis seseorang. Maka bukanlah sesuatu yang baik dan sopan untuk seseorang menanyakan kapan menikah apalagi hingga melontarkan dan melekatkan kata perawan tua dan bujang lapuk pada seseorang yang memilih sendiri atau belum menikah.

Oleh karena itu penting bagi banyak orang untuk mengetahui arti sesungguhnya dari pernikahan dan menempatkannya dalam duduk permasalahan yang tepat. Begitu juga pada seseorang perempuan dan pria ynag sudah berumur dan belum menikah, janganlah seseorang mudah menghakimi dan melabeli bahwa dirinta sebagai perawan tua dan bujang lapuk. Stigma yang berkembang tentang perawan tua dan bujang lapuk ini haruslah dilawan sebagai pengejewantahan hak kebebasan seseorang menentukan pilihannya dan juga sevagai bentuk justifikasi yang tidak bisa dibenarkan seolah-olah seseorang yang memiliki pasangan lebih baik kehidupannya daripada mereka yang belum menikah.

Hal-hal lain yang juga harus dilawan adalah melawan bentuk mengasihani seseorang terhadap seorang yang memilih untuk tetap sendiri dan memutuskan untuk belum memiliki pasangan. Kamu harus mulai paham bahwa menjadi jomblo sama halnya kamu ingin makan dan minum serta memilih makanan dan minuman yang kamu inginkan, bahwa itu adalah pilihan. Oleh karenanya penting menentang stigma perawan tua dab bujang lapuk dalam konteks pernikahan.

Selain melawan stigma, hal ini juga merupakan sebuah pengajaran lanjutan bagi banyak orang untuk memahami menikah bukan saja soal ijab qabul, mas kawin atapun bertemunya kelamin dengan kelamin yang dilegalkan oleh negara dan halal dalam agama. Dan harus diterangkan sejelas-jelasnya tentang hakekat menikah, di mana menikah adalah bentuk dari pilihan seseorang yang juga disepakati oleh pihak yang memiliki hubungan. Kesepakatan ini pun dilakukan oleh kedua belah pihak yang menjalin hubungan secara intens, bukan oleh keluarga ataupun diwakilkan pada siapapun.

Iklan

PJR : Harus Ada, Berlipat Ganda dan Melawan Dunia

Tidak ada orang yang sebenarnya ingin menerima title jomblo dengan riang gembira. Nyatanya sebuah kata jomblo saat ini disepakati oleh banyak orang adalah bentuk ketidakberdayaan seseorang dalam percintaan. Padahal tidaklah seperti itu seharusnya jomblo diartikan.

Lahirnya Partai Jomblo Revolusioner (PJR) adalah bentuk dari tindak tanduk sekaligus menyikapi kesalahan cara berpikir ini. PJR begitulah kami yang percaya dan menyebutnya sebagai kekuatan kolektif ini mencoba melawan sebuah hegemoni pemikiran-pemikiran yang salah. Kehadiran PJR juga dinafikan sebagai sebuah perlawanan tentang melawan kesepian dan kesendirian.

Banyak pertanyaan kenapa akhirnya harus revolusioner? Jomblo memang harus revolusioner, sifatnya tidak lagi menunggu move on datang. Tetapi menyambut move on itu datang untuk sebuah jalan kemerdekaan dan menjadi sebuah wadah untuk kebersamaan, itulah yang akhirnya membuat jomblo harus revolusioner. PJR tidak berarti melanggengkan kesendirian dan tidak percaya akan hubungan atau pernikahan. PJR adalah sebuah wadah, seperti yang dikatakan di atas wadah dalam bentuk melawan kesendirian dan kesepian.

Hubungan yang memiliki komitmen, baik disebut ta’aruf, pacaran, hubungan tanpa status ataupun pernikahan. Bagi PJR itu adalah hak semua manusia, dan PJR tidak membatasi siapapun karena yang dilawan adalah kesendirian dan kesepian.

Kenapa harus melawan kesendirian dan kesepian?

Karena dari sanalah semua ketidakberdayaan berasal. Dari kesendirian dan kesepian pulalah pikiran liar yang tidak terkontrol menjadi sebuah bencana. Kami melawan ketidakhadiran pemerintah yang tidak dapat atau bahkan menyingkirkan permasalahan perasaan sebagai sesuatu yang tidak penting. Tak apa dianggap lelucon karena PJR datang memang tidak untuk menunjukkan taring-taring untuk perebutan kekuasaan. Sistem politik PJR adalah bagi rasa sama rata, sebab belum ada yang mampu menerapkan sama rasa sama rata.

Revolusi mental tidak terjadi pada perasaan-perasaan yang ditinggalkan sendirian serta membiarkan mereka yang sendiri merasa kesepian. PJR tidak pula hadir sebagai pembual asmara yang jika berada dalam satu barisan lalu mendapatkan pasangan. Bagi PJR siapapun yang mendefinisikan perasaan sebagai sesuatu yang mutlak harus didapatkan dengan berbagai cara, maka itulah musuh bersama. Sebab kami percaya sebuah rasa hadir karena kemampuan individu memunculkan karya alamiahnya.

Akhir dari artikel ini maka PJR menasbihkan diri sebagai wadah yang tidak berhaluan politik kiri atau kanan. PJR adalah politik perasaan, mencapaikan kesepakatan dalam hubungan dengan mengedepankan logika dan perasaan sehingga tidak ada keterpaksaan. Tetapi kami juga setia dalam garis perjuangan melawan tirani-tirani kekuasaan baik itu tentang kedaulatan bersama ataupun tentang mengebiri perasaan. Wassalam 🙂

Jomblo, Salurkan Galaumu Pada Kegiatan Positif!

Perasaan jomblo sangatlah sensitif itu menjadi alasan mengapa jomblo lebih punya naluri dalam hal yang berkaitan dengan hati. Sifat sensitif jomblo ini pada akhirnya membuat sebuah efek kecemasan, rasa gundah serta gelisah atau yang saat ini sering kita sebut galau. Pada umumnya galau memang bukanlah sesuatu yang dilarang atau terlarang.

Galau atau kecemasan, rasa gelisah dan gundah ini merupakan sebuah cerminan atau refleksi dari ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu. Seperti halnya minum air, Baca lebih lanjut